Terapi okupasi untuk Down Syndrome



Terapi okupasi untuk Down Syndrome

Apa itu terapi okupasi? 
Bagaimana peran terapi okupasi pada anak dengan Down syndrome?  

Halo teman-teman pembaca yang budiman,

Perkenalkan saya, Mila, mahasiswa jurusan okupasi terapi di poltekkes kemenkes Surakarta. Nah disini saya akan sedikit menjelaskan tentang apa itu TO (terapi okupasi) dan penanganan TO pada down syndrome.. check it out!^^


Terapi okupasi vs tukang pijet
Sebelumnya, nama terapi okupasi memang sangat asing bagi masyarakat awam.. orang mungkin lebih mengenal Fisioterapi daripada Terapi okupasi, bahkan sering juga yang salah kira TO (terapi okupasi) adalah tukang pijat wkwk..^^ padahal sangat berbeda sekali! memang terkadang okupasi terapis juga memberikan intervensi (penanganan terapi) berupa stretching/ massage atau lebih mudah dipaham sebagai pijatan, akan tetapi sebelum mengintervensi tersebut, okupasi terapis lebih dulu memahami penyakit/keluhan kondisi yang dialami pasien, kesulitan dan keterbatasan yang ada pada pasien, lalu menentukan tujuan terapi, metode terapi, intervensi, dan home program apa saja yang diperlukan pasien berdasarkan kan ilmu dan pengetahuan medis yang tepat dan selanjutnya dilakukan evaluasi hasil terapi. So, berbeda sekali kan dengan tukang pijet? ^^


Apa itu terapi okupasi?
Terapi Okupasi adalah bentuk layanan kesehatan kepada masyarakat atau pasien yang mengalami gangguan fisik dan atau mental dengan menggunakan latihan/aktivitas mengerjakan sasaran yang terseleksi (okupasi) untuk meningkatkan kemandirian individu pada area aktivitas kehidupan sehari-hari, produktivitas dan pemanfaatan waktu luang dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat atau well-being (kemandirian) individu tersebut agar dapat hidup lebih baik meski dengan gangguan/ keterbatasan yang dimiliknya. Sampai disini sudah ngerti dikit2 kan ya.. ^^

Singkatnya, tujuan TO adalah untuk mengoptimalkan tingkat kemandirian, mencegah disabilitas (ketidakmampuan menegerjakan activitas/kecacatan), mempertahankan kesehatan dan ‘memampukan’ orang berpartisipasi dalam aktivitas sehari-sehari serta dalam lingkungan sosialnya. TO memberikan layanan pada 4 area, yaitu, area pediatri (anak), fisik, psikososial /jiwa, dan geriatri (orang tua).

Pada kesempatan kali ini saya akan sedikit membahas peran TO di area pediatri/anak.. terutama pada kondisi Down syndrome. Terapi okupasi bisa diterapkan pada anak-anak dengan kondisi: kelainan genetik seperti down syndrome, cacat sejak lahir, autisme, cerebral palsy, gangguan sensorik, masalah dalam belajar, perkembangan yang terlambat, gangguan kesehatan mental serta perilaku, trauma, dan penyakit-penyakit kronis lainnya. Terapi okupasi diterapkan untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam bidang kognitif, fisik, sensorik, motorik, juga meningkatkan kepercayaan diri dan sense of accomplishment dari si anak. Seperti itu teman-teman..^^


Peran TO pada Down Syndrome
Down syndrome adalah suatu kondisi keterbelakangan perkembangan fisik dan mental di mana seorang anak dilahirkan dengan salinan tambahan kromosom ke-21 atau biasa disebut trisomi 21. Faktor yang berisiko menyebabkan Down syndrome antara lain ibu hamil berumur tua dan keturunan. Penderita Down syndrome memiliki ciri fisik yang khas seperti tubuh pendek, fitur wajah datar, mata miring ke atas, lidah menjulur, dll. 

Terapis okupasi mengidentifikasi problem yang ada pada anak Down syndrome dengan observasi dan pemeriksaan yang terstandar. Problem anak Down syndrome antara lain kognitif (kesulitan belajar, iq rendah), persepsi rendah, body function dan structure (gangguan pendengaran dan penglihatan, cacat jantung bawaan, kegemukan), sensorimotor (lemah pada tonus otot, perkembangan milestone, koordinasi gerak, taktil awareness), sosioemosial (kesulitan berekspresi, berteman, berinteraksi dengan orang/sosialisasi), motivasi rendah, dll. 

Terapis okupasi berperan memberikan aktivitas-aktivitas bermakna serta mengedukasi cara menjalani aktivitas sehari-hari, seperti makan, berpakaian, mengangkat atau meletakkan benda, dan memanajemen uang. Pada treatment kognitif, terapis memberi aktivitas untuk meningkatkan atensi, pemahaman, konsentrasi, dan problm solving. Untuk meningkatkan motorik, terapis menggunakan positioning, peningkatan kekuatan otot dan gross motor skill, dan motor planning. Selain itu terapis juga melakukan behavioral therapy untuk membentuk perilaku dan merubah perilaku buruk seperti berteriak, memukul, dan perilaku buruk lain. 


Okay, sepertinya cukup sekian dulu penjelasan saya tentang peran terapi okupasi pada Down Syndrome ya.. Terimakasih sudah mampir membaca ^^ jika ada kesalahan dalam penjelasan saya diatas, mohon dikoreksi.. sampai jumpa di lain kesempatan! 

*oiya jangan lupa dicomment dan dishare guys

Sumber:
Irawan, R. D. (2015). TERAPI OKUPASI (OCCUPATIONAL THERAPY) UNTUK ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (DOWN SYNDROME)(Studi Kasus Pada Anak Usia 5-6 Tahun Di Balai Pengembangan Pendidikan Khusus Semarang) (Doctoral dissertation, Universitas Negeri Semarang)

Komentar

Posting Komentar